News  

Sejarah Hari Pahlawan, Mengenang Perjuangan Pahlawan Setiap 10 November

Sejarah Hari Pahlawan, Mengenang Perjuangan Pahlawan Setiap 10 November

Suara.com – Sejarah Hari Pahlawan tak terlepas dari perjuangan para pahlawan di masa lalu dalam mempertahankan bangsa Indonesia dari tangan penjajah. Saat itu, pertempuran besar kembali terjadi pascakemerdekaan yang melibatkan bangsa Indonesia dengan tentara Inggris. Pertempuran hebat itu terjadi di Surabaya selama tiga minggu tepatnya pada 27 Oktober hingga 20 November 1945. 

Tanggal 10 November menjadi puncak pertempuran di Surabaya yang kemudian kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Oleh karena itulah, kota Surabaya menjadi saksi sejarah di balik peringatan Hari Pahlawan. Terdapat bangunan bersejarah dan karya seni beberapa tokoh nasional untuk mengenang dan menghargai perjuangan mereka. 

Untuk mengetahui lebih jelas peristiwa 10 November di Surabaya, simak ulasan selengkapnya mengenai sejarah Hari Pahlawan berikut. 

Sejarah Hari Pahlawan 

Baca Juga:
Hari Pahlawan 10 November 2022 Apakah Libur Tanggal Merah? Ini Jawabannya

Meskipun Indonesia telah memproklmasikan kemerdekaanya pada 17 Agustus 1945, namun saat itu situasi negara masih bergejolak dan belum stabil. Hingga tibalah hari di mana tentara Inggris mendarat di Jakarta kemudian sampai di Surabaya pada 25 September 1945. Tentara Inggris yang datang tersebut merupakan tentara yang tergabung dalam AFNEI. Mereka juga datang bersama tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration).  

Diketahui kedatangan mereka di Indonesia bertujuan untuk memulangkan pasukan tentara Jepang ke negaranya. Selain itu mereka juga berencana untuk mengembalikan status bangsa Indonesia sebagai negara jajahan kepada pemerintah Belanda. 

Setelah mengetahui tujuan dari tentara Inggris yang ingin membantu Belanda merebut kembali kemerdekaan NKRI tersebut, langsung memicu kemarahan dari warga Surabaya terhadap Belanda yang dianggap sudah melecehkan kemerdekaan Indonesia dan juga bendera Merah-Putih. 

Setelah itu, pada 27 Oktober 1945 perwakilan dari negara Indonesia mengadakan sebuah perundingan dengan beberapa pihak Belanda, akan tetapi musyawarah itu justru berakhir ricuh. Kejadian inilah yang kemufian menyebabkan Indonesia dan Inggris sepakat untuk menandatangani gencatan senjata pada 29 Oktober. 

Meski sudah sepakat untuk gencatan senjata, namun keesokan harinya, bentrokan antara dua belah pihak tak dapat terhindarkan. Puncak bentrokan terjadi pada 30 Oktober 1945 ketika Brigadir Jenderal Mallaby terbunuh.

Baca Juga:
Hari Pahlawan Tanggal Berapa? Ini Sejarah dan Tradisi Perayaannya

Diketahui, limpinan tertinggi tentara Inggris untuk Jawa Timur itu telah tertembak, bahkan dilaporkan bahwa mobil yang ditumpanginya meledak akibat terkena granat. 

Kematianjya ini pun menyebabkan bangsa Inggris murka dan membuat Jenderal Eric Carden Robert Mansergh ditunjuk untuk menggantikan posisi Mallaby.

Dia pun lantas mengeluarkan Ultimatum pada 10 November 1945 yang meminta pihak Indonesia agar menyerahkan senjata, menghentikan perlawanan terhadap AFNEI dan juga administrasi NICA, serta ancaman penggempuran kota Surabaya. Ancaman ini akan dilakukan jika pihak Indonesia tidak mematuhi perintah Inggris. 

Selain itu, mereka juga juga menginstruksikan seluruh pimpinan Indonesia dan pemuda di Surabaya untuk datang pada 10 November 1945 pukul 06.00 pagi di tempat yang sudah ditentukan. Ultimatum dari tentara Inggris itu ternyata tak membuat tentara atapun rakyat Surabaya takut. 

Semangat mereka justru semakin membara dan siap berperang demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sutomo atau Bung Tomo salah satu tokoh yang membakar semangat para pejuang untuk tetap semangat dan pantang menyerah melawan penjajah. Ia mendorong para pejuang melalui orasi dan semboyannya yang berbunyi “Merdeka atau mati!” 

Pertempuran 10 November

Tepat pada 10 November 1945  terjadilah pertempuran Surabaya yang sangat dahsyat hingga tiga minggu. Pertempuran berdarah itu menjadi perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah dikumandangkannya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. 

Bahkan dijeskan dalam beberapa catatan, jika pertempuran Surabaya ini menjadi satu gencatan terbesar dalam perjalanan sejarah Revolusi Nasional Indonesia. Surabaya yang menjadi kota medan peperangan itu mengalami kerusakan yang cukup besar.

Tidak hanya kerugian dalam bentuk materiil, pertempuran Surabaya juga menelan puluhan ribu nyawa rakyat yang sebagian besar merupakan  warga sipil. 

Diperkirakan lebih dari 150 ribu jiwa terpaksa harus mengungsi dari koat Surabaya. Termasuk 1.600 pratjurit tentara dilaporkan tewas, hilang dan puluhan alat tempur rusak serta hancur.

Banyaknya nyawa rakyat yang telah gugur dalam perjuangan kemerdekaan Tanah Air itu menjadikan Surabaya dikenang sebagai kota pahlawan. 

Pertempuran dahsyat ini juga dianggap berhasil memukul mundur tentara Inggris dan bangsa Indonesia tetap bisa mempertahankan kemerdekaannya. Puncak pertempuran Surabaya yang terjadi pada 10 November 1945 itulah yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan. 

Penetapan Hari Pahlawan ini berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) No. 316 Tahun 1959 yang mengatur tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur yang telah ditandatangani oleh Presiden Soekarno. Kepres tersebut diterbitkan untuk mengenang jasa para pahlawan dan tragedi berdarah 10 November 1945 di Surabaya. 

Berdasarkan catatan sejarah Hari Pahlawan 10 November, terdapat empat Pahlawan Nasional yang memiliki andil besar dalam pertempuran di Surabaya. Diantaranya yaitu: 

  • KH. Hasyim Asj’ari 
  • Gubernur Surjo 
  • Bung Tomo 
  • Moestopo 

Demikian tadi ulasan mengenai sejarah Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November sebagai bentuk mengahargai perjuangan pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semoga bermanfaat!

Kontributor : Putri Ayu Nanda Sari


Artikel ini bersumber dari www.suara.com.