Sejoli Terdakwa Aborsi 7 Janin Saling Bantah Kesaksian di Persidangan

Sejoli Terdakwa Aborsi 7 Janin Saling Bantah Kesaksian di Persidangan

Merdeka.com – Nita Mangewa dan Salmon Panggau, dua terdakwa kasus dugaan aborsi tujuh janin saling memberikan kesaksian saat sidang di Gedung CCC Pengadilan Negeri Makassar, Selasa (1/11). Dalam persidangan tersebut, sejoli terdakwa aborsi tujuh janin tersebut saling membantah saat memberikan kesaksian.

Sidang yang dipimpin Hakim Royke Harold Inkiriwang, dan dua anggota majelis yakni Djulita Tandi M serta Purwanto S Abdullah meminta terdakwa Salmon Panggau untuk memberikan kesaksian. Dalam kesaksiannya, Salmon mengungkapkan pertama kali mengenal Nita Mangewa pada tahun 2012.

“Pertama kali ketemu di kos teman yang mulia. Kebetulan teman saya ini berteman dengan temannya Nita,” ujarnya.

Sejak saat itu, Salmon dan Nita berpacaran. Salmon mengungkapkan pertama kali berhubungan intim dengan Nita setahun setelah pacaran.

“Kos saya di sekitar Jalan Sahabat. Satu tahun lebih pacaran (berhubungan badan) karena saat itu tinggal satu kos sejak akhir tahun 2013 ,” ungkapnya.

Karena tinggal satu kos dan sering berhubungan intim, pada awal tahun 2014 Nita menyampaikan kepada Salmon telat datang bulan.

“Saat itu dia bilang telat datang bulan, saat itu 1 bulan lebih. Saat itu juga beli alat (tes kehamilan) dan hasilnya positif (hamil),” tuturnya.

Saat mengetahui kekasihnya positif hamil, Salmon mengaku panik. Apalagi saat itu, Nita dan Salmon masih kuliah.

“Saat itu kami belum ada rencana apa-apa, panik saja yang mulia. Terus saat itu Nita masih kuliah dan saya juga,” kata dia.

Salmon mengungkapkan pikiran untuk menggugurkan janin tersebut pertama kali dari Nita. Hal itu dilakukan karena menurut Salmon, kekasihnya tersebut belum siap untuk melahirkan.

“Saat itu usia kehamilan sudah 4 bulan yang mulia. Tidak ada periksa dokter, karena Nita terus mengatakan saya ingin kuliah dan belum (mau hamil dan menikah),” bebernya.

Karena alasan tersebut, Salmon mengaku akhirnya setuju untuk melakukan aborsi. Bahkan, Salmon mengungkapkan Nita terus mendesak dirinya agar segera aborsi.

“Pada saat itu mau mempertahankan kehamilan, tapi saya terus didesak (untuk aborsi) akhirnya saya mengiyakan. Baiklah kalau kamu memaksa, kalau terjadi apa-apa saya tidak bertangung jawab,” tuturnya.

Untuk melancarkan rencana aborsi, keduanya akhirnya mencari artikel terkait obat aborsi. Setelah mendapatkan referensi, akhirnya Salmon membeli obat aborsi tersebut secara online dengan harga Rp500 ribu.

“Pakai obat, lupa namanya. Dipesan oleh Nita melalui online. Saat itu browsing di internet,” kata dia mantan mahasiswa Jurusan Teknik Perkapalan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin ini.

Usai mendapatkan obat tersebut, Salmon menceritakan dua biji obat yang dibeli akhirnya dikonsumsi oleh Nita. Dua biji obat tersebut satu diminum dan satu lagi dimasukkan ke dalam alat vital Nita.

“Setelah sekitar empat jam ada reaksinya dan akhirnya keluar dalam bentuk janin. Pada saat itu (janin) ditaruh dalam kain dan saya simpan dalam lemari. Niat saya mau bawa pulang kampung di untuk prosesi adat pemakaman di Toraja,” tuturnya.

Salmon mengaku sudah 4 kali melakukan aborsi bersama-sama dengan Nita. Sementara tiga janin lainnya, Salmon mengaku tidak mengetahui.

“Yang saya tahu 4 yang mulia. Saya tidak tahu (3 janin) dan tanpa sepengetahuan saya. Aborsi pertama saat usia kehamilan sudah 4 bulan, (aborsi) kedua (usia kandungan) 2 bulan, ketiga 2 bulan, keempat 1 bulan lebih,” ungkapnya.

Meski tidak mengetahui, tetapi berdasarkan hasil tes DNA menunjukkan bahwa 3 janin merupakan darah daging Salmon dan Nita. Meski telah melakukan aborsi sebanyak tujuh kali, Salmon mengaku tidak pernah membawa Nita ke dokter untuk periksa kesehatan.

“Masa pemulihan habis aborsi paling lama 3 minggu yang mulia. Tidak pernah ke dokter, saya cuma kasih suplemen agar Nita sehat lagi,” kata dia

Sementara Nita Mangewa membantah kesaksian Salmon. Salah satu kesaksian yang dibantah yakni rencana aborsi pertama kali disampaikan oleh Salmon.

“Dia yang punya inisiatif (aborsi) yang mulia. Saya selalu menuntut ke dia untuk dinikahi,” kata Nita.

Nita mengaku rela bertahan dengan Salmon meski harus aborsi tujuh kali karena janji manisnya. Bahkan, Nita mengaku pernah berencana untuk menemui orangtua Salmon untuk menyampaikan jika dirinya hamil.

“Saat itu dia larang (temui orang tua) dan bilang kalau kau temui orang tua ku tidak bakalan kau lihat lagi saya,” kata Nita menirukan ucapan Salmon saat itu.

Selain itu, Nita juga membantah kesaksian Salmon terkait proses aborsi. Nita mengaku tidak ada obat yang dirinya minum saat melakukan aborsi.

“Tidak ada saya minum obat Yang Mulia. Yang ada dua obat itu dia masukkan ke dalam alat kelamin ku Yang Mulia,” bebernya.

Dalam kesaksiannya, Nita mengaku tujuh kali aborsi tersebut dilakukan di kos Salmon di Jalan Sahabat, Kecamatan Tamalanrea. Meski demikian, janin hasil aborsi tersebut disimpannya di kamar kos miliknya.

“Janin yang simpan (di kotak makan) itu dia Yang Mulia. Dia selalu bilang janin itu akan dikuburkan di Toraja jika sudah menikah,” ucapnya.

Sidang selanjutnya, kedua terdakwa akan mendengarkan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Makassar. Pasalnya, kedua terdakwa tidak akan memghadirkan saksi meringankan dalam sidang ke depan.

[lia]


Artikel ini bersumber dari www.merdeka.com.