Masyarakat desa ikut andil pencemaran laut sampah plastik

Masyarakat desa ikut andil pencemaran laut sampah plastik

Data Asosiasi Industri plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/ tahun, bahkan 3,2 juta ton sampah plastik telah dibuang ke laut. Penggunaan plastik melalui data Direktorat Industri Kimia Hilir Kemenperin pada 2019, menunjukkan, konsumsi plastik terbesar yaitu polietilen sebanyak 34% dan disusul oleh polipropilen sebanyak 31%, hampir sebagian besar pemanfaatan keduanya digunakan untuk kemasan makanan dan minuman. 

Kepala Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BBTPPI) Kementerian Perindustrian Emmy Suryandari menyebutkan, penerapan sirkular ekonomi di industri daur ulang plastik perlu dilakukan. Hal ini berkaitan dengan 600 industri plastik dan 700 industri kecil dengan investasi Rp5,15 triliun, sehingga skema sirkular ekonomi menjadi pilihan yang perlu digunakan dan dimanfaatkan oleh seluruh pemangku kepentingan. Menurut Emmy, plastik dapat didaur ulang dan dimanfaatkan kembali karena secara penyerapan tenaga kerja dinilai cukup bagus.

“Tidak menggunakan plastik, juga harus diimbangi dengan penyerapan tenaga kerja. Melihat tenaga kerja yang dimanfaatkan atau yang bekerja di industri plastik sebanyak 3,36 juta. Secara aspek ekonomi, Kemenperin harus memastikan bahwa perubahan pola pikir tidak akan menimbulkan dampak untuk perubahan secara aspek sosial,” ujarnya dalam The SDGs National Seminar secara virtual, pada Selasa (1/11). 

Maka dari itu, salah satu upaya Kemenperin adalah mendorong industri plastik Indonesia agar bisa melakukan transformasi, sehingga kelak industri dapat memproduksi plastik daur ulang. Meski menurut Emmy sudah banyak industri yang sudah memproduksi kemasan-kemasan dapat didaur ulang, tetapi perlu ada gerakan masif dari para industri untuk mempersiapkan kapasitas dan harga, lalu edukasi kepada masyarakat agar mengurangi penggunaan plastik.

Sedangkan Policy Advocacy Manager The Climate Reality Project Indonesia, Ari Adipratomo menjelaskan, tantangan terbesar dalam menuntaskan permasalahan sampah plastik ini yatu, pola pikir masyarakat yang masih sedikit peduli terhadap dampak dari sampah plastik yang mencemari lautan. Pelaku pencemaran laut oleh sampah plastik ini tidak hanya dari masyarakat perkotaan namun ada andil pula dari masyarakat yang tinggal di pedesaan. 

“Kita terlalu akrab dengan plastik. Menurut data World Bank 2021, Indonesia menghasilkan 7,8 juta ton sampah plastik setiap tahun. Permasalahan sampah bukan hanya dihasilkan dari penduduk perkotaan, melainkan dua pertiganya dihasilkan penduduk pedesaan. Permasalahan ini dikarenakan masyarakat pedesaan yang sering membuang sampah ke perairan atau badan-badan air seperti sungai, saluran air, dan lain sebagainya,” tutur Ari. 

Daerah pedesaan menghasilkan paling banyak sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik akibat tingkat pengumpulan sampah yang terbatas. Pembuangan langsung sampah ke air adalah jalur utama sampah plastik mencapai sungai. Hal ini disebabkan karena penduduk tidak memiliki akses ke layanan pengumpulan sampah yang memadai. 

“Sungai membawa dan membuang 83% sampah plastik tahunan yang bocor dari darat ke laut. Hanya 17% sampah plastik yang langsung divuang dari daerah pesisir,” lanjutnya


Artikel ini bersumber dari www.alinea.id.